Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Sunday, July 7, 2013

DIENG CULTURE FESTIVAL : Eksotisme Tanah Khayangan

       


Gb. Peserta Jalan Santai bersiap bersama
maskot FSB (Bimo-kanan) dan Visit Jateng (kepodang-kiri)
          Dieng, sebuah kawasan yang berada lebih dari 2000m dpl. Merupakan dataran tertinggi di Indonesia yang masih dihuni manusia. Kawasan Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif. Boleh dikatakan bahwa Dieng adalah gunung berapi raksasa yang memiliki beberapa kepundan kawah. Ketinggian desa - desa di puncak dataran tinggi ini, beberapa di antaranya  berada di ketinggian 2093 - 2263 dpl (Puncak Sikunir). Ini berarti bisa lebih tinggi dari lapisan awan genus Stratus di langit. Hal inilah yang menjadikan Dieng sering disebut sebagai "Negeri di Atas Awan". Sebuah kawasan menarik untuk dikunjungi, baik untuk tujuan wisata, pendidikan maupun penelitian, karena banyaknya peninggalan purbakala, budaya, kondisi dan kekayaan alamnya. Banyaknya kawasan menarik untuk dikunjungi, membuat satu hari tak cukup untuk sebuah perjalanan di kawasan ini. Bila ingin lengkap, paling tidak tiga hari dua malam, karena masih ada beberapa kawasan yang hanya bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Dan berwisata ke Dieng adalah hal yang tidak pernah menjemukan. Penulis sendiri yang sudah berkali - kali ke Dieng (he..he..he.. Maklum, tinggal di Banjarnegara dan sering ada teman yang minta diantar ke sana), tak pernah bosan dengan perjalanan ke Dieng.
Gb. Jadual DCF terpampang di depan
gedung pertemuan Soeharto Witlem
           Kawasan Dieng terletak di dua Kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Wilayah ini lebih dari 70% ada di kawasan Banjarnegara, tapi karena aksesnya lebih mudah dari Wonosobo, maka Dieng lebih dikenal sebagai wilayah Wonosobo. Okay! Tak masalah.. Yang penting bagaimana kawasan ini bisa dikelola oleh kedua Kabupaten agar mampu memberi kesejahteraan pada penduduknya.
        Pada kesempatan ini, penulis tidak akan mengupas daerah wisata Dieng secara keseluruhan. Penulis hanya akan mengulas sedikit tentang Dieng Culture Festival (DCF)  ke - 4 yang baru saja diselenggarakan pada hari Sabtu - Ahad, 29 - 30 Juni 2013 yang lalu. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin Pemkab Banjarnegara untuk melestarikan berbagai atraksi budaya dan mengenalkan Dieng sebagai tujuan wisata Banjarnegara ke masyarakat nasional maupun internasional. 
           DCF dibuka pada tanggal 29 Juni 2013 oleh Bupati Banjarnegara. Pembukaan ditandai dengan pelepasan lima buah balon raksasa ke langit Dieng, kemudian dilanjutkan dengan jalan santai yang diikuti oleh ratusan masyarakat Banjarnegara. Kegiatan dipusatkan di halaman Gedung Pertemuan Soeharto - Witlem yang legendaris. Cuaca yang mendung sangat menguntungkan peserta jalan santai yang menempuh jarak sekitar 4 km mengitari kawasan candi Arjuna melalui Museum Purbakala Kailasa. Sepanjang perjalanan, peserta dapat melihat pemandangan dan kawasan wisata yang cantik di Dieng. 
Gb. Kawasan Candi Arjuna dilihat dari ketinggian.
           Finish mengambil lokasi yang sama dengan pemberangkatan. Sesampai di garis finish, peserta berkumpul di halaman dalam gedung Soeharto - Witlem. Acara dilanjutkan dengan penyerahan "ubarampe" (ah...semacam sajen kali ya..) pada sesepuh kawasan Dieng untuk dilakukan prosesi awal dimulainya upacara pemotongan rambut gimbal sebagai puncak kegiatan yang akan diselenggarakan hari Ahad tanggal 30 Juni 2013 di kawasan Candi Arjuna. Setelah sajen diterima, para sesepuh melanjutkan dengan ritual do'a - do'a memohon kelancaran kegiatan yang akan dilaksanakan. Sementara di sekitar panggung yang disediakan, diadakan pengundian doorprize untuk peserta jalan santai. 
         Upacara pemotongan rambut gimbal sendiri merupakan tradisi turun temurun masyarakat Dieng. Di mana anak yang akan dipotong rambut gimbalnya, dipercaya sebagai anak - anak istimewa titisan para dewa. (weleh..weleh..). Rambut gimbal ini terjadi dengan sendirinya dan tidak semua anak yang lahir di Dieng memiliki rambut gimbal. Rambut ini akan muncul ketika anak masih bayi, saat dicukur rambutnya, maka anak akan sakit dan selanjutnya rambutnya tumbuh menggimbal. (oops!). Rambut gimbal ini baru akan dipotong bila si anak sudah menginginkannya. Jadi, atas permintaan si anak. Dan ada satu syarat yang harus dilaksanakan oleh orang tua, bahwa semua permintaan si anak saat akan dipotong rambutnya harus dituruti. Untung gak ada yang minta yang aneh - aneh. he...he..he... Paling anak minta dibelikan sepeda, kambing atau barang lainnya. Yang paling berat kalau anak minta ditanggapkan wayang kulit. perlu biaya besar. Dan biasanya anak minta dicukur rambutnya pada usia 7 - 9 tahun. 
Gb. Para sesepuh dengan sajennya

Gb. Prosesi do'a di kompleks candi Arjuna

Gb. Anak berambut gimbal dengan ayahnya


Gb. Salah satu group kesenian mempersiapkan diri
untuk tampil







Gb. Salah satu stand cinderamata (kaos)



Gb. Stand batik Gumelem, batik khas Banjarnegara



Gb. Bebagai pertunjukkan kesenian memeriahkan acara



          Setelah prosesi do'a dan penarikan undian, maka acara akan dilanjutkan pada malam hari yaitu penyalaan lampion dan pertunjukkan wayang kulit. Selama waktu menunggu itu, pemgunjung disuguhi berbagai atraksi kesenian khas dari daerah Dieng. berbagai kelompok kesenian menampilkan kebolehannya di halaman yang luas itu. Di sekitar lapangan juga terdapat stand - stand yang menjual cinderamata dan oleh - oleh khas Banjarnegara. Ada juga pertunjukkan musik dangdut.
          Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan penyalaan api unggun untuk acara membakar jagung bersama. Ada sekitar 12 pembakaran jagung yang disediakan yang masing - masing panjangnya dua meter. Berkarung - karung jagung manis disediakan gratis oleh panitia untuk dibakar dan dinikmati bersama - sama oleh pengunjung. Suasananya ramai sekali. Tentu saja lebih banyak pengunjung yang tidak kebagian jagung karena jumlah pengunjung yang jauh lebih banyak dari jumlah jagung yang disediakan.
       Bersamaan dengan acara bakar - bakaran jagung, eh... di panggung yang disediakan ditampilkan life music. Campur aduk, dari pop sampai dangdut. Kemudian dilanjutkan dengan penyalaan lampion - lampion kertas yang diterbangkan di langit malam Dieng, diikuti dengan pesta kembang api. Acara ditutup dengan pagelarang wayang kulit.
         Aku sendiri bersama beberapa teman, menghabiskan waktu untuk melihat beberapa obyek wisata, yaitu kawah Sikidang dan telaga Merdada. Ada banyak sekali obyek wisata di kawasan Dieng, mulai Tuk Bimo Lukar sebagai mata air asalnya sungai Serayu, telaga (Warna, Pengilon, Merdada, dll), kawah (Candradimuka, Sikidang dan kawah - kawah kecil lainnya), sumur Jalatunda, gangsiran Aswotomo, Dieng Theathre, Museum Purbakala Kailasa, Kompleks Candi Arjuna dan lain - lain. belum lagi kawasan agro yang juga mulai diminati sebagai agrowisata.
         Untuk penginapan, di Dieng ada banyak hotel dan homestay. Biasanya wisatawan lebih suka menginap di homestay. Dan selama DCF ini, seluruh hotel dan homestay full booked beberapa bulan sebelumnya.
          Makanan? Hmmmm... Ada mie ongklok dan tempe kemul. Aku sendiri tidak suka mie ongklok yang kuah maizenanya mirip lendir itu. Tapi kata para penggemar, mie ongklok cukup lezat untuk dinikmati di udara dingin Dieng. Biasanya dilengkapi dengan sate sapi manis dan tempe kemul, yaitu tempe goreng dibalut tepung yang lebar di pinggirnya dan digoreng kering. Hangat - hangat dinikmati bersama segelas kopi panas bisa mengusir hawa dingin. Tapi begitu diangkat dari penggorengan, baiknya segera dinikmati, karena masakan akan segera dingin bila bersentuhan dengan udara luar. Aku lebih suka memilih mie goreng atau nasi goreng di salah satu warung makan di sana. Oops! Porsinya jumbo! Setelah dilakukan editing untuk sayurnya, akhirnya bisa habis juga. Udara dingin membuat kita pengennya makaaaaannnn terus. Dan untuk mengganjal perut, di banyak tempat banyak dijual kentang goreng. kentang yang merupakan komoditi sayuran khas Dieng ini digoreng dan dimakan hangat dengan taburan bumbu yang disukai. Atau bisa juga dimakan tanpa bumbu. Kentang varietas khusus untuk keripik ini sudah gurih.
Gb. Panggung pertunjukkan wayang kulit
        Selain itu, di Dieng terkenal juga dengan Purwaceng-nya. Minuman yang berasal dari tumbuhan Purwaceng yang di Indonesia konon hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng. (belum cari konfirmasi...halah!) :D
         Purwaceng ini ada yang dijual dalam bentuk serbuk herbal aslinya, ada juga yang sudah diolah dicampur kopi, susu, jahe, dan lain. -lain. Purwaceng ini katanya berkhasiat untuk menjaga stamina dan kesehatan. Juga memiliki efek afrodisiak. (katanyaaa....). Aku sendiri lebih suka Purwaceng kopi susu yang kalau diminum terasa hangat di badan. Sangat cocok untuk Dieng yang pada waktu - waktu tertentu suhunya bisa mencapai nol derajat celcius, bahkan minus! Ini menyebabkan di Dieng pada saat - saat tertentu bisa dijumpai turunnya salju yang oleh masyarakat setempat disebut "bun upas". Ini merupakan musuh petani sayur, khususnya kentang. tanaman akan membusuk bila terkena salju.

Gb. Kompleks Candi Arjuna

Gb. Mie Goreng spesial dengan porsi jumbo!


Gb. Kompleks Kawah Sikidang




Gb. Kawah Sikidang yang mendidih.




Gb. Purwaceng serbuk herbal

Gb. kentang goreng

Gb. Siap - siap membakar jagung

Gb. Berebut membakar jagung

Gb. Lampion di langit Dieng

Gb. Kabut menyelimuti telaga Merdada. So romantic...!
             Itu acara hari pertama DCF. Untuk acara hari kedua, akan diisi puncak kegiatan yaitu pemotongan rambut gimbal yang pada tahun ini diikuti oleh lima orang anak. Pertunjukkan kesenian masih akan terus berlangsung dan acara akan ditutup pada malah marinya dengan pertunjukkan musik jaz yang bertajuk "Jazz di Atas Awan". Wkwkwkwkwkwk..... Puluhan group musik Jazz sudah menyatakan diri akan mengikuti konser ini. (info dari panitia).
             Untuk oleh - oleh khas Dieng, ada manisan carica (sejenis pepaya yang hanya tumbuh di Dieng), keripik kentang, aneka keripik jamur, jipang ketan, klathak Batur (makanan dari tepung terigu dan digoreng seperti keripik dengan rasa gurih pedas dan tentu saja Purwaceng aneka rasa.
             Demikian sekelumit tentang DCF yang rencananya akan dilaksanakan tiap tahun. Semoga Pemkab bisa makin kreatif mengemas kegiatan ini sehingga makin menarik pengunjung untuk datang ke Dieng. Karena dari informasi beberapa pengunjung yang sempat kita wawancarai (yaelaaa, kayak wartawan aja.... :p), mereka kurang puas dengan penyelenggaraan kegiatan yang menurut mereka kurang melibatkan pengunjung.
        Pengunjung hanya dipaksa untuk manjadi penonton saja. tentu saja tidak sepenuhnya benar, karena pengunjung bisa aktif pada acara bakar - bakaran dan jalan santai, bila mau. Tapi apapun, salut untuk panitia yang sudah bekerja keras untuk menyelenggarakan kegiatan ini. tak ada gading yang tak retak, masukan pengunjung bisa dijadikan pemicu untuk perbaikan di masa mendatang. Bravo panitia! Thanks for your good work!

Saturday, July 6, 2013

TAK PERNAH BOSAN MENYUSURI PANTAI - PANTAI DI GUNUNGKIDUL

Libur telah tiba! Time to traveling!
Gb. Memasuki Kota Wonosari yang asri dan bersih
     
      Untuk kesekian kalinya kita liburan ke pantai. Dan kali ini, pilihan kita adalah pantai di Gunungkidul.  Kita ke sana hari Jum'at, 5 Juli 2013 yang lalu. Tujuan utamanya adalah Pantai Indrayanti, tapi bila ada waktu kita akan menyusuri pantai lainnya. 

Gb. Pantai Indrayanti yang cantik.
           Walaupun sudah berkali - kali, berlibur di pantai di Gunungkidul tidak akan pernah ada bosannya. Satu hari tak akan cukup untuk menyusuri seluruh pantainya. Belum wisata lainnya.
        Kita menginap di Jogja pada malam harinya dan berangkat Jum'at pagi jam 08.00 menuju Wonosari. perjalanan dari Kota Jogjakarta menuju Indrayanti sekitar dua jam. Sengaja kita berangkat pagi agar di jalan tidak macet. Sudah umum kalau liburan sekolah, Jogjakarta selalu macet!
      Perjalanan melalui ringroad utara, kemudian menuju jalan Solo ke arah Prambanan. Sampai sekitar Berbah, kita belok kanan lewat Piyungan menuju Wonosari. Jalan masih sepi, sehingga perjalanan lancar. Setelah memasuki Kota Wonosari, perjalanan dilanjutkan menuju pantai. Sepanjang jalan yang tampak adalah hutan jati dan pegunungan kapur yang tandus, walaupun di sana - sini sudah mulai menghijau. Beberapa kebun singkong dan cabe juga terlihat di sepanjang jalan. Mendekati wilayah pantai, tampak beberapa penjual belalang di pinggir - pinggir jalan. Yup! Belalang. Ada yang mentah, ada yang sudah digoreng. He...he..he... gak berani mencoba. Karenanya kita tidak berhenti di sini. Kita hanya berhenti sebentar untuk membeli sawo. Banyak penjual sawo di pinggir jalan. Sekilo ditawarkan limabelas ribu rupiah. Tapi bisa ditawar kok. Akhirnya dapat sepuluh ribu rupuah sekilonya. Lumayanlah untuk camilan di jalan.
Gb. Klamud yang besar dan segar.
          Akhirnya.... sampailah kita ke pantai Indrayanti. Oops! Walaupun masih terlihat indah, pantai Indrayanti sudah ramai sekali. Tahun 2010 terakhir aku ke sana, masih sepi. Hanya ada beberapa penjual kelapa muda dan jajanan. Sekarang sudah dipenuhi rumah makan dan bahkan penginapan. Suasananya sudah ramai sekali. Tak apalah... 
       Pantai Indrayanti seperti pantai - pantai lainnya di Gunungkidul memiliki garis pantai yang lebar dengan pasir putihnya yang berasal dari koral dan karang. Perpaduan yang sempurna antara pantai dengan pegunungan di sekitarnya, menciptakan pemandangan yang fantastik. Masya Allah! Allahu Akbar. Sungguh, segala yang diciptakan Allah itu pasti indah.
Gb. Tempat yang menyenangkan untuk anak - anak
bermain air dan mencari binatang laut.
         
       


Untuk anak - anak, di sepanjang pantai terdapat daerah yang dangkal yang di bawahnya terdapat karang dan airnya sangat jernih. Karang yang ditumbuhi lumut dan rumput laut ini menjadi tempat persembunyian biota laut yang menakjubkan. Banyak sekali bintang laut berjalan - jalan di atara karang. Ikan - ikan kecil beraneka warna dan kelomang yang selalu jadi incaran anak - anak. Siput laut, gurita keci, gonggong dan lain sebagainya. Anak - anak mencari ikan menggunakan jaring yang banyak dijual di sini. Untuk ukuran kecil Rp 5000,- dan yang agak besar Rp 7000,-. Untuk wadahnya bisa membeli kantong plastik ukuran tiga kiloan dengan harga seribu rupiah setiap enam biji. Kalau sudah asyik mencari ikan, biasanya anak - anak jadi lupa waktu.Tapi hati - hati dengan binatang bulu babi yang juga banyak terdapat di sini. Kalau terkena, kulit akan terasa gatal dan perih.  
Gb. Payung bagi yang takut gosong. :p
          Bagi yang tidak suka berpanas - panasan, bisa menyewa payung dan tikar seharga Rp 20.000,-. Bisa digunakan untuk sekedar duduk - duduk atau tiduran menikmati angin pantai. Bila haus, banyak penjual kelapa muda di sini. Harganya delapan ribu rupiah sebuahnya, tapi dengan ukuran yang cukup besar. Cukuplah untuk menghilangkan haus. 
      Puas di pantai Indrayanti, kita bisa berpindah ke pantai lainnya. Pantai yang sudah lebih dulu dikenal yang merupakan satu garis pantai dengan Indrayanti adalah Baron, Kukup dan Krakal. Dari Indrayanti kita ke Krakal untuk shalat Jum'at. di sini ada masjid yang biasa digunakan untuk shalat Jum'at. Habis shalat Jum'at kita makan siang dulu. Banyak rumah makan yang menyediakan masakan seafood dengan harga relatif terjangkau di sini. Liburan kali ini, aku memilih makan dengan membawa bekal dari rumah. Jadilah kita makan siang dengan bekal yang kita bawa dari rumah berupa nasi, ayam goreng dan sayur oseng dan menggelar tikar di pantai. (mengingatkan pada acara piknik jadul. he... he.. he..).
         
Gb. Berkendaraan menyusuri pantai Krakal
        Di Krakal, angin pantainya sangat kencang. Udaranya juga panas. Untuk menyusuri pantai, kita bisa menyewa mobil kecil dengan tarif Rp 25.000,- setiap tigapuluh menit. Kendaraan yang mirip mobil golf ini akan membawa kita menyusuri pantai tanpa takut kepanasan dan lelah. Di pantai Krakal nyaris tidak ada peneduh. pantainya sangat terbuka, sehingga pada siang hari sangat panas. 
           Dari Krakal kita menuju ke pantai Kukup. Di sini anak - anak melanjutkan bermain air dan mencari binatang laut sampai sore. Waktu yang tepat untuk mencari binatang laut ini pada pagi atau sore hari. Saat siang, mereka bersembunyi di balik batu - batu karang karena panas matahari. Sayang sekali, Kukup, Baron dan Krakal saat ini terlihat sangat kotor dan kumuh. kesan kurang terawat sangat terasa sekali. Sampah berserakan di mana - mana. 
Gb. Adek Menangkap Bintang Laut di Kukup.
              Bila malas mencari sendiri, di Kukup ada penjual ikan hias air laut yang akan menawarkan pada kita dengan harga murah. Ikan Discus Napoleon yang imut berwarna biru kuning sebesar sepuluh senti hanya Rp 15.000,-. Ada juga buntel duren yang bila menggembung akan menampakkan duru - duri di sekujur tubuhnya. Ada juga belut laut yang berwarna hitam atau belang - belang atau warna putih tutul - tutul hitam. Bentuknya mirip ular.     Ada juga binatang - binatang laut lainnya yang lucu dan imut. Rata - rata ikan dihargai lima ribu rupiah per ekor. Adek sempat merengek minta dibelikan. Tapi, siapa yang akan merawatnya? Kasihan ikan - ikan itu kalau akhirnya hanya dibeli untuk mati. Akhirnya cukup puas hanya melihat dan memegang - megang saja. Binatang laut yang berhasil ditangkapnya di pantai, juga dilepas kembali sebelum pulang, kecuali kelomang yang mudah dipelihara. Alkhamdulillah... 
Gb. Bintang Laut yang banyak dijumpai di pantai
Gb. Penjual ikan hias yang banyak dirubung anak - anak 


Gb. Gurita kecil yang banyak ditemukan di lubang - lubang karang

Gb. Ikan buntel duren dan ikan - ikan hias lainnya

Gb. Dua ikan karang menempel pada bulu babi

Gb. Penjual Kelomang dan kandangnya (Rp 1000,-/5 ekor)

Gb. Udang goreng (Rp 50.000,-/kg)

Gb. Keripik Rumput Laut (Rp 5000,-/250gr)

Gb. Ikan Kakap goreng (Rp 25.000/kg)



Gb. Penjual Souvenir (Kaos, kerajinan)
           Untuk ibu - ibu, bisa menunggu anak - anak bermain sambil membeli oleh - oleh. Beberapa oleh - oleh yang bisa dibawa pulang adalah ikan laut. Bisa mentah atau sudah digoreng. Ada udang, lobster, ikan kakap, tongkol, teri, dan sebagainya. Yang paling banyak adalah udang goreng dan rempeyek teri. Ada juga keripik rumput laut. Lumayan untuk camilan. Dan kalau ke Kukup, jangan lupa beli pisang ambon yang khas di sana. Buahnya besar dan manis. Pisang yang ditanam dai daerah kapur. Manisnya khas. Ada juga souvenir berupa kerajinan kerang dan kaos yang murah meriah. Kaos ukuran besar (L, XL) dengan bahan cukup halus dan tebal hanya tigapuluh ribuan. Setelan anak - anak Rp 25,000,- an saja. Boleh ditawar.
Gb. Kukup, mengingatkan pada Tanah Lot di Bali
         Selain Baron, Kukup, Krakal dan Indrayanti, sebenarnya masih ada beberapa pantai yang sayang untuk dilewatkan, yaitu pantai Sundak, Pok Tunggal dan Siung yang masih asli dan sangat indah. Tapi Lokasi pantai ini sangan jauh dan "tersembunyi". Jalan ke sana cukup sulit, sehingga cukup melelahkan  untuk anak - anak. Lagipula hari sudah cukup sore. Pantai _ pantai itu pernah kukunjungi beberapa tahun yang lalu. Eksotis dan romantis, apalagi bila menjelang matahari terbenam. Saat itu masih sepi, entah kali ini. Entar kucari dulu foto - fotonya ya, kalau ketemu aku cerita tentang pantai - pantai itu. Yang aku ingat, di Pok Tunggal ada sebatang pohon yang sangat dijaga oleh masyarakat setempat. Mereka menyebutnya pohon duras. Jangan memanjatnya, atau kita akan kena teguran masyarakat. Di bawah pohon itu sering digunakan untuk pemotretan iklan atau lainnya, karena memang sangat menawan dengan latar belakang pantai berpasir putih dan laut serta langit yang walaupun sama - sama bitu, tapi biru yang berbeda. 
      Melihat pantai - pantai itu, tak salah kalau dikatakan bahwa Gunungkidul memang gudangnya pantai yang indah dan menakjubkan. Hanya bagaimana pemerintah dan masyarakat setempat mampu mengelola dan menjaganya supaya tetap indah dan tetap menarik untuk dikunjungi.
Ah.... Indonesia itu cantik!
            
        

Tuesday, February 28, 2012

NAIK KERETA API EKSEKUTIF BIMA PURWOKERTO - GAMBIR

Dapat tugas dinas luar ke Jakarta selama empat hari, Selasa sampai Jum’at. Dari Banjarnegara, sepertinya lebih nyaman naik kereta api. Kalau naik pesawat, harus ke Jogjakarta atau Semarang terlebih dulu dan itu paling tidak empat jam perjalanan.
Setelah cari – cari informasi, akhirnya dapat juga tiket Kereta Api kelas eksekutif Bima seharga Rp 235.000,00. Lumayan juga untuk harga tiket Kereta Api. Kereta dijadualkan berangkat hari Selasa, 28 Pebruari 2012 pukul 00.40 pagi dan berhenti di stasiun Gambir. Di tiket pesawat tertera nomor gerbong 4 dengan nomor kursi 6D. Memang, sekarang Kereta Api memberlakukan satu bangku satu penumpang, sehingga diharapkan lebih nyaman.
Aku membeli tiket di loket pemesanan di stasiun dengan menunjukkan kartu identitas. Seorang wanita yang melayani memberikan informasi bahwa aku tidak harus datang ke stasiun untuk membeli tiket. Tiket bisa diperoleh secara online atau melalui agen (di Banjarnegara bisa diperoleh di Kantor Pos) dengan harga sama dengan kalau kita beli di stasiun. Ah, makin mudah saja pelayanan untuk calon penumpang. Akhirnya aku putuskan untuk membeli tiket berangkat saja dan pulangnya (karena belum ada kepastian tanggal) akan aku beli di Kantor Pos.
Pada hari keberangkatan, sebelum pukul 23.00 wib aku sudah siap di stasiun. Lebih baik menunggu daripada terburu – buru, begitu pertimbanganku. Sambil terkantuk – kantuk, anak – anak ikut mengantar karena tidak mau ditinggal. Pukul 23.30 wib mendapat informasi dari Polsus KA bahwa kereta diperkirakan terlambat lebih dari satu jam. Hah?! Terlambat? Ternyata karena ada gerbong kereta yang anjlog do stasiun Balapan, Solo. Ah, semoga lekas diatasi dan perjalanan selanjutnya lancar. Jangan kebiasaan delay ya? Aamiin…
Akhirnya, aku diantar rombongan kecilku menunggu di ruang tunggu penumpang umum. Sengaja aku tidak menunggu di ruang tunggu eksekutif karena anak – anak ingin melihat kereta. Aku sendiri ingin melihat – lihat suasana stasiun. Kami duduk – duduk di bangku tunggu empat seat yang terbuat dari stainless steel , bukan bangku panjang dari kayu yang sering tergambar di benakku mengenai ruang tunggu stasiun. Lantai ruang tunggu yang dikeramik kombinasi warna krem dan coklat terrakota juga terlihat bersih. Tak ada sampah berserakan yang dulu sering kulihat saat kecil bila akan ke Jakarta bersama orang tuaku. Banyak tong sampah yang tertutup disediakan di sekitar stasiun. Beberapa orang cleaning service juga tak henti untuk membersihkan lantai atau bangku yang terlihat kotor. Fasilitas kamar kecil juga disediakan, gratis. Cukup bersih dengan air mengalir yang melimpah.
Yang tak kalah menarik adalah pemandangan pedagang asongan di dalam stasiun. Mereka berseragam berwarna biru tua dengan dagangan yang dikemas dan tertata rapi. Cara menera menjajakan juga tidak membuat gerah calon pembeli. Mereka tidak menawarkan dengan memasuki dari gerbong ke gerbong, tapi hanya menawarkan dari pintu gerbong. Penumpang yang membutuhkan akan menuju pintu gerbong, menghampiri. Sehingga suasana di dalam gerbong tetap nyaman.
Memperhatikan perubahan yang sangat nyata terhadap pelayanan stasiun kereta api, tak terasa kalau waktu sudah beranjak lebih dari satu jam. Beberpa kereta silih berganti datang dan pergi. Penumpang pun turun naik. Pukul 01.55 wib, kereta yang akan kunaiki datang. Kereta tidak berhenti lama, hanya sekitar lima menitan. Pukul 02.00 wib kereta mulai berjalan perlahan dan akhirnya meninggalkan stasiun Purwokerto menuju Jakarta.
Di dalam kereta, tempat duduk yang dapat distel terasa sangat nyaman. Seluruh tempat duduk hampir penuh. Air conditionernya tidak terlalu dingin sehingga aku tidak membutuhkan selimut untuk dapat tidur dengan nyaman. Tapi mataku tak mau terpejam. Entah karena terlalu excited dengan layanan Kereta Api sekarang atau karena hal lain, yang jelas aku hanya memandang kosong pada langit gelap dari balik jendela yang tirainya setengah terbuka.
Pukul 05.55 wib, Kereta Api berhenti di Stasiun Dawuan. Stasiun kecil setelah Cirebon. Di sini kereta berhenti cukup lama, hampir lima belas menit. Beberapa penumpang kulihat menunaikan shalat subuh di bangkunya masing – masing. Kugunakan kesempatan ini umtuk ke kamar kecil. Sambil menunggu antrian, di dekat resto kulihat beberapa bapak – bapak berkumpul sambil bercakap – cakap ramai. Rupanya itu smoking area.
Beberapa crew kereta menawarkan sarapan pagi. Aku yang terbiasa sarapan, akhirnya memilih nasi goreng dan segelas kopi susu. Sayang, pelayanan yang nyaman agak terganggu dengan menu yang kurasakan kurang cocok. Nasgornya terlalu asin dan kopi susunya encer. Kopinya kopi bubuk yang berampas. Untuk sepiring nasi goreng dengan lauk telur dadar dan sepotong daging giling goreng, serta segelas kopi susu, aku harus merogoh kocek sebesar tiga puluh ribu rupiah. Ah, mahal! He he he… Tapi lumayan, daripada nanti perut bermasalah.
Kereta melanjutkan perjalanan dan pukul 07.05 wib sampai di Stasiun Jatinegara. Kereta berhenti untuk menurunkan penumpang. Tidak lama karena penumpang yang turun di sini juga tidak banyak. Setelah berjalan beberapa saat, pukul 07.26 wib, sampailah kereta di stasiun terakhir, Gambir.
Di Stasiun yang terkenal ini aku turun dan keluar melalui pintu utara. Setelah bertanya tempat pemesanan taksi pada petugas jaga stasiun (entah, petugas apa ya, seragamnya biru tua), aku memesan taksi Blue Bird sesuai rekomendasi seorang teman. Aku memang agak ragu dengan sembarang taksi, sehingga agak cukup lama aku menunggu di peron stasiun sebelum memutuskan memesan taksi. Di tempat pemesanan, aku dikenai biaya taxi service  sebesar lima ribu rupiah. Tak apalah, yang penting aman, mengingat aku sendirian.
Blue Bird memang taksi resmi di stasiun gambir selain Taxiku dan Putra Taxi (info dari pengemudi taksi) yang berwarna kuning. Blue Bird sendiri berwarna biru. Pengemudinya cukup ramah dan identitasnya, juga identitas kendaraannya jelas. Biaya taksi dengan menggunakan argo, tidak perlu tawar – menawar (ini yang aku hindari!). Alkhamdulillah, pukul 08.15 wib aku sampai di Hotel Ibis Slipi di Jl. Letjen. S. Parman dengan selamat. Argo taksi menunjukkan pada angka 27500.  Sementara bila order by phone, untuk taksi reguler Blue Bird dikenai minimum charge sebesar tigapuluh ribu rupiah. Tigapuluh ribu rupiah tidaklah mahal untuk sebuah kenyamanan dan rasa aman. Untuk pembatalan dikenai fee sepuluh ribu rupiah. Semua tertulis dengan jelas pada stiker – stiker yang ditempel di dalam taksi. Sebuah standar pelayanan terhadap pelanggan yang transparan.
Secara umum, aku cukup puas dengan pelayanan kereta api yang kualami dalam perjalanan kali ini. Semoga ke depannya semakin baik.