Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, May 11, 2013

PEMBERANTASAN KORUPSI, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

     Hari Rabu tanggal 8 Mei 2012 kemarin ikut kegiatan penyuluhan hukum di Pendopo Dipayuda. Pendopo Kabupaten kebanggan masyarakat Kabupaten Banjarnegara. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang diadakan oleh Bagian Hukum Sekretariat Daerah. Dan kegiatan kali ini mengambil tema pemberantasan korupsi dengan mengundang pembicara dari Kepolisian Resort Banjarnegara, Kejaksaan Negeri Banjarnegara, Pengadilan Negeri Banjarnegara dan Pengadilan Tata Usaha Negara Provinsi Jawa Tengah.
      Pada kesempatan itu disampaikan salah satunya oleh pembicara dari Polres, bahwa penemuan kasus korupsi di Banjarnegara adalah nomer tujuh dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia! Nomer tujuh! Alias masuk sepuluh besar. Di satu sisi ini membanggakan karena penindakan kasus korupsi di Kabupaten Banjarnegara cukup banyak yang dapat diungkap dan diberikan tindakan. Tapi di sisi lain, ini sekaligus memprihatinkan, karena ditengarai ini adalah fenomena gunung es dimana masih lebih banyak lagi kasus yang belum terungkap. Dan di Kabupaten yang dilewati sungai Serayu ini, korupsi merupakan tindakan potensial yang bisa semakin banyak terjadi, bila tidak diantisipasi.
      Ada dua hal besar yang sering menjadi modus untuk tindakan korupsi yang dilakukan, yaitu :
1. Penyalahgunaan wewenang dan jabatan untuk memperkaya diri dan orang lain, kelompok atau golongan tertentu. Hal bisa dilihat dari kasus yang sudah mendapatkan vonis, pelakunya adalah pejabat dan swasta yang terlibat dalam pengadaan barang dan jasa. 
2. Gratifikasi. Gratufikasi sering disalahartikan sebagai "ucapan terimakasih" dari pihak ketiga kepada para pejabat tertentu/pejabat pengadaan barang dan jasa setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya. Tidak! Sekali - kali tidak. Bila pemberian barang/jasa itu menggunakan uang negara yang sebenarnya merupakan uang rakyat, maka bila ada pengembalian baik berupa diskon, hadiah dan lain - lain, harusnya dikembalikan kepada rakyat/negara. Jadi, bila ada pejabat yang menerimanya, maka dikatagorikan gratifikasi. Sebenarnya, hati kita sudah memahami, tapi akal kita seringkalinya menutupi, sehingga gratifikasi dianggap seolah - olah menjadi sesuatu yang lazim dan halal. Naudzubillahmindzaliik!
     Dikatakan oleh pembicara, bahwa munculnya sifat dan sikap mental koruptif pada seseorang, biasanya disebabkan oleh tiga hal :
1. Memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini biasanya sangat sedikit. Mereka mengambil biasanya juga dalam jumlah tidak banyak. Tapi, sedikit atau banyak, korupsi tetaplah korupsi, mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dan itu sama dengan mencuri.
2. Pengaruh lingkungan, sosial budaya dan gaya hidup. Tak dapt dipungkiri bahwa saat ini gaya hidup hedonis materialistik sudah membudaya. Kesuksesan seseorang sangan ditentukan dengan harta dan jabatan, rumah megah, mobil mewah, gadget terbaru, baju keluaran butik dan barang - barang bermerk lainnya. Kecemasan tidak bisa "diterima" atau "menyesuaikan" dengan lingkungan bila tak sama dengan mereka. Akhirnya untuk memenuhi gaya hidup yang kadang tak sesuai dengan penghasilannya itu, mereka akan melakukan apa saja, termasuk korupsi. Dan pengaruh inilah yang menjadi penyebab terbanyak.
3. Sifat rakus yang serakus - rakusnya. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan Allah padanya dan terus meminta lebih. Dosa sudah menjadi kebiasaan bahkan hati mereka telah tumpul untuk bisa merasakan bahwa yang dilakukannya adalah dosa. Mereka yang selalu mendewakan logika dan akal untuk membenarkan dosa - dosa yang mereka lakukan. 
       Memprihatinkan memang. Dan saat ini korupsi telah dilakukan secara sistemik dan saling berkaitan satu sama lain. Tidak ada yang berdiri sendiri. Saling bekerja sama membentuk sebuah sistem yang korup. Dan apabila ada yang berusaha untuk mengubahnya, justru dianggap "merusak" sistem. ya, merusak sistem yang sudah rusak ini.
      Akhirnya, kembali kepada masing - masing individu. Walaupun sering dikatakan bahwa korupsi muncul bila ada kesempatan, tapi bila individunya memang berniat korupsi dan bermental korup, gak ada kesempatan pun dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan tersebut. DAn ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk membebaskan negeri ini dari praktek - praktek meyesatkan tersebut, tentunya di bawah kepemimpinan para top decision maker di wilayah masing - masing.
Dengan tekad kuat, niat yang lurus dan upaya maksimal, pasti bisa! Aamiin.



Sunday, April 15, 2012

INIKAH TUJUAN PENDIDIKAN KITA?

          Seperti biasa, hari libur aku ingin bersantai. Setelah memasak dan mandi, aku duduk - duduk menemani anakku nonton televisi. Acaranya film serial Doraemon. Walaupun menurutku tak begitu mendidik, dengan pendampingan yang tepat, Insya Allah serial itu cukuplah hanya sekedar menjadi hiburan keluarga.
          Sedang asyik nonton televisi, datanglah adik ipar yang seorang guru sekolah menengah atas. Tanpa babibu dia langsung duduk dan mengeluhkan tentang persiapan Ujian Akhir Nasional (UAN) SMA yang akan segera dilaksanakan. Dia mengeluhkan tentang tata tertib pengawasan UAN yang menurutnya janggal. Dia yang masih memiliki sedikit idealisme sebagai seorang guru tidak bisa menerima bahwa pengawasan yang ketat saat pelaksanaan UAN justru dipermasalahkan saat rapat persiapan. Para guru yang menjadi pengawas UAN diminta agar tidak terlalu ketat dalam pengawasannya agar bisa "membantu" siswa. Lho??!!!
        Aku yang bukan guru hanya bisa mengerenyitkan dahi mendengar berita yang dibawanya. Bukankah itu berarti, secara tidak langsung para pengawas diminta untuk "memberi peluang" bagi para peserta ujian untuk melakukan hal - hal yang "memudahkan" pengerjaan soal? Nyontek misalnya. Dia hanya mengangguk. 
          Aku hanya bisa mengelus dada sambil bergidik. Mau jadi apa generasi mendatang kalau sejak dini sudah diajarkan cara - cara tidak jujur semacam itu? Para guru diminta memberi "kemudahan" bagi pelaksanaan ujian, bahkan bila perlu mencari bocoran jawaban untuk diberikan pada para siswa peserta ujian. Tujuannya apalagi kalau bukan memaksimalkan angka kelulusan. Bila perlu lulus 100% dengan nilai tinggi dan mendapat ranking peringkat regional bahkan nasional, bagaimanapun caranya. 
        Dalam UU No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa : "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara", dan "Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentukwatak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa". Dengan kata lain, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk mindset positif, karakter yang baik, dalam rangka mendukung terbentuknya budaya yang dapat dibanggakan.
          Dengan upaya yang dilakukan pihak sekolah seperti itu, apakah tujuan pendidikan akan tercapai? Tidak salah kalau generasi yang terbentuk juga menjadi generasi instant yang santai, serba ingin hasil cepat, kurang menghargai proses dan jauh dari akhlak mulia. Wallahu'alam. 
       Walaupun tidak seluruhnya, tapi berbagai kejadian yang kita lihat sehari - hari cukup menunjukkan hal tersebut. Perkelahian pelajar, membolos, berbohong, pergaulan bebas (yang ditunjukkan dengan meningkatnya siswi hamil di luar nikah), sikap hedonis dengan jor - joran terhadap sesuatu yang bersifat kebendaan, dan lain -lain masih banyak lagi. 
       Selain guru, orang tua juga sering ikut memperparah dalam pembentukan karakter ini. Memanjakan anak dengan barang - barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan hanya dengan alasan kasihan, nanti anak minder karena tidak memiliki benda - benda terkini seperti yang dimiliki teman - temannya. Mindset semacam itu tentunya karena dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya. Orang tua yang bermental tangguh tidak akan punya pemikiran semacam itu. 

           
             Aku jadi teringat pengalamanku sendiri. Enam tahun menjadi koordinator pembuat soal Lomba Cerdas Cermat Dokter Kecil tingkat Kabupaten, hampir setiap tahun selalu dikejar - kejar oknum guru yang menghendaki bocoran soal. Tentu saja tujuannya kejuaraan. Kejuaraan, angka kelulusan tinggi menjadi tujuan utama dan bukan proses. Murid "dimudahkan" dan berbagai cara dilakukan. Antara murid dan guru juga sering ada kode - kode tertentu saat lomba berlangsung, dengan maksud membantu. Membantu dengan cara yang tidak benar.
         Akhirnya, aku dan mungkin banyak orang tua lainnya menjadi was - was bila harus memasukkan anak ke sekolah. Favorit bukan lagi menjadi ukuran, tapi lebih pada pendidikan budi pekerti yang diberikan. Walaupun kecerdasan intelektual tetap diperhatikan, tapi pembentukan karakter dalam rangka mewujudkan attitude yang baik lebih diutamakan. Juara olimpiade mapel, angka kelulusan tinggi, juara kegiatan ekstrakurikuler dan prestasi individual maupun kelompok siswa, akhirnya menjadi bonus dan hadiah yang manis karena murid - murid yang bermental tangguh, berdaya juang tinggi, berperilaku terpuji menjadi hal yang utama di sana. ADAKAH SEKOLAH SEPERTI ITU?
        Mari wujudkan tujuan pendidikan dengan mulai mengurangi memberikan "kemudahan" kepada para siswa. Kita do'akan anak - anak kita menjadi anak - anak shalih dan shalihah yang akan menjaga bangsa, negara, keluarga dan agamanya dari kerusakan. Aamiin.....
Ini demi generasi mendatang dan demi kejayaan negara Indonesia. #sigh (ketinggian ya? he he he...)