Sunday, May 6, 2012

PETUALANGAN BERSAMA SAHABAT




Karya : Salsabilla Hanna Zakiyah
Kelas : IVB
Sekolah : SDIT Permata Hati Banjarnegara
                             
Gb. Penghiburku, yang salah satu keinginannya
adalah menjadi penulis. Semoga terkabul, Nak.
 Sekarang,hari pertama liburan semester Tara, Indri, Irvan, Dodo dan Ica, si lima sahabat mereka merencanakan berpetualang dihutan belakang Sungai Njongglo.Tetapi,Indri takut.Indri adalah anak penakut.Hanya mendengar orang berkata “Hantu” saja Indri sudah menjerit-jerit karena saking takutnya.Sebaliknya,Tara adalah anak yang sangat berani.Walaupun Tara perempuan,ia berkata “Aku anak perempuan yang pemberani.Bagiku,yang namanya hantu itu tak ada!”katanya.Lalu,Irvan adalah anak laki-laki.Dia terlahir dari keluarga yang kaya,namun tidak sombong.Dia sedikit berani.Dodo,anak paling gendut diantara semuanya.Jika berpergian,pasti yang diandalkan adalah makanan.Jika Ica,dialah anak yang cerdas,berani,dan terampil.Dia selau persiapan.Walaupun dia terkadang sedikit pelupa.
Suatu hari...
“Hei,kapan kita mulai?Aku sudah tak sabar,”Tara mengawali pembicaraan saat mereka berlima berkumpul di Taman Indah.
“Bagaimana kalau besok?Kita kumpul di dekat sungai Jongglo sekitar jam 10.35 saja.Persiapannya yang lengkap,”jelas Ica.Indri hanya diam sambil menahan takut.
“Benar juga.Yang paling penting adalah kompas!Tanpa kompas,kita pasti akan tersesat,”kata Irvan.Semuanya mengangguk setuju dengan santai kecuali Indri.
  “Indri,bagaimana dengan kamu?”tanya Ica pada Indri.Dengan takut-takut,Indri mengangguk.
  “Hei, bukankah yang paling penting dibawa adalah makanan? Nyam...Ini enak. Kalian mau?”tawar Dodo sambil menjulurkan tangannya yang membawa sekotak getuk goreng. Semuanya mengangguk lalu mengambil. Tak lupa berterima kasih.
  Setelah mereka semua selesai berkumpul,mereka pulang kerumah masing-masing dengan perasaan yang mereka alami sendiri.
Dirumah Tara...
“Ayah,ibu,izinkan aku ya,untuk berpetualang bersama teman-teman dihutan belakang sungai Jongglo,ya?Aku ingin ikut.Boleh tidak?”pinta Tara pada kedua orangtuanya.Ayah dan ibu Tara tersenyum sambil menatap Tara.
 “Tentu boleh,Tara.Karena dirimu menyukai petualangan.Dan jangan lupa,bawa bekal yang banyak,tenda,pakaian,payung,dan kompas.Serta teropong,”jelas ayah Tara.Ibunya mengangguk.Dan berjanji akan membuatkan Tara bekal yang sehat.
 Dikamar, Tara menyiapkan barang-barang yang akan Ia bawa besok.Ia menggunakan tas besar bewarna hitam dan bertuliskan “S”.Pertama-tama,Tara meletakkan beberapa pakaian,kedua,ia meletakkan jas hujannya yang bewarna biru tua dan juga penerang,ketiga,ia nanti akan meletakkan bekal-bekalnya.
 Di tas bagian depan,Ia meletakkan teropong dan kompas serta alat tulis.Ia juga diberikan sedikit uang oleh Ayah dan Ibu Tara.Dan ia letakkan di tas bagian depan itu juga.
   “Tara,sudah mandi?Kalau belum,cepat mandi.Bibi akan menyiapkan sup sayur dan air putih,”tiba-tiba,ada yang mengagetkan Tara dari bawah.Suara itu seperti suara ibu.
   “Baiklah!Aku akan mandi sekarang,”jawab Tara.
     Setelah Tara selesai mandi,Ia segera turun kebawah untuk makan malam.Saat makan malam,Tara terlihat lahap.Sepertinya,Tara lapar.
     Setelah makan malam,Ia segera ke kamarnya.Sebelumnya,Ia meminta ibunya untuk membuatkan makanan untuk bekal besok saat berpetualang secepat mungkin.
   “Baiklah,Tara.Ibu janji.Kamu tidur saja,agar besok tidak bangun siang,”ujar ibunya.
   “Baiklah,bu.Selamat malam!”teriak Tara saat akan ke kamarnya.
Kukuruyuukk...Kukuruyuukk...
 Ayam Jago membangunkan Tara dari tidur lelapnya.Ia bangun dengan rasa senang.Karena,Ia akan berpetualang bersama sahabat-sahabatnya.
   “Ah,aku belum menyiapkan tenda.Aku akan membawa dua selimut tebal,bantal,dan guling.Bekalnya!Ibu...Bekalnya sudah siap?”kata Tara.
   “Tentu sudah,Tara.Sekarang,lebih baik kau mandi lalu menyiapkan apa yang belum kau siapkan,”ujar ibu.
   “Baiklah,ibu!”
   Setelah Tara mandi, ia sarapan dengan Nasi Goreng. Lalu menyiapkan tenda,  bantal, guling dan bekal-bekalnya yang belum ia letakkan didalam tas.Ia sepertinya sudah tidak sabar karena Tara selalu tersenyum.
   Sudah jam 10.35.Ia diantarkan ayahnya ke sungai Njongglo.Setelah sampai disana,Tara melihat Ica, Irvan, Dodo dan Indri. Seperti biasa,Dodo sibuk dengan makanannya.
   “Hai, sudah kumpul semua?Diperbolehkan tidak?”Tara mengawali pembicaraan.
   “BOLEH DONG!!!” ujar mereka keras sekali.
   “Wah...Kalau begitu, kita mulai saja, sekarang!” ucap Tara.
   “Baiklah.AYAH,IBU KAMI BERANGKAT!!!” teriak mereka semua keras sekali pada orangtua mereka masing-masing.Orangtua mereka tersenyum dengan bahagia.
 Mereka pun memasuki hutan itu.Indri sepertinya ketakutan.Tetapi,Ica menyemangatinya.Hutannya terlihat gelap sekali.Mereka pun mengeluarkan penerang masing-masing.
Saat di hutan...
   “Aduh!”teriak Ica saat sedang berjalan menyusuri hutan bersama teman-temannya.
   “Ica,ada apa denganmu?”ujar Indri cemas.
   “Kakiku sakit sekali.Sepertinya aku menginjak sesuatu.Perih sekali...,”jawab Ica lemas.Indri segera melihat telapak kaki Ica.Ternyata,Ica menginjak duri pohon Dinamit!
   “Ica,kau...kau menginjak duri pohon dinamit!”ucap Irvan.
   “Duri pohon dinamit?!Itu beracun!Untunglah,aku membawa kotak darurat di dalam tasku.Dodo,bisa tolong ambilkan?”pinta Ica kepada Dodo yang selalu makan adri tadi.
   “Um...Nyam Nyam...Baiklah,”kata Dodo sambil mengunyah makanannya.
   “Ini.Habis nih,makananku.Makan nanti saja,deh,”ujar Dodo.
Lalu,Tara mencabut duri itu.Dan,berhasil.Indri mengobati luka Ica menggunakan obat merah.Lalu,Ia perban kecil.Irvan mengeluarkan kompasnya yang bewarna kuning tua. Dodo hanya khawatir sambil duduk diatas batu.
Gludak Gludak! Bruumm...!!!
Terdengar suara aneh seperti raksasa berjalan.Untunglah,luka Ica sudah dibalut.Indri mulai takut.Tara kaget.Begitupun Ica,Irvan,dan Dodo.
 “Aduhhh...Bagaimana ini?Tamatlah kita,”ujar Dodo panik.
 “Husss...Jangan mudah menyerah!”semangat Tara.
 “Lebih baik,kita berjalan ke arah kanan saja.Agar bunyi itu tidak mengejar kita.Lalu,kita beristirahat sebentar di tanah itu,”saran Ica sambil menunjuk tanah lapang yang luas dan kosong di hutan.Semuanya menyetujui.Lalu,mereka mulai berjalan.
Setelah sampai,mereka beristirahat.Mereka memakan bekal mereka.Mereka makan dengan lahap.Terutama Dodo.
 Setelah mereka beristirahat,mereka melanjutkan petualangan.Sekarang,hari sudah mulai gelap.Ica,Dodo,dan Irvan mengeluarkan lampu minyak.Irvan dan Ica membawa dua lampu minyak.Mereka berdua memberikan salah satu lampu minyak mereka kepada Indri dan Tara.Indri dan Tara juga mengeluarkan penerang.
   “Gelap sekali.Eh,aku melihat tanah kosong!Kita dirikan tenda disitu saja!”usul Tara.Semuanya menyetujui.Lalu,mereka mendirikan tenda di tanah kosong.Irvan membawa tenda berukuran sedang untuk berdua dengan Dodo.Tara yang membawa tenda dengan ukuran besar juga untuk bertiga dengan Indri dan Ica.Setelah membangun tenda,mereka mencari kayu bakar untuk menyalakan api unggun.Setelah mengumpulkan kayu bakar cukup banyak,mereka menyalakan api unggun.Tetapi,tidak ada yang membawa penyala api.
   “Mengapa tak ada yang membawa? Oh,ya! Seperti yang di ajarkan di pelajaran IPA, kita menggesek-gesekan satu batu dengan batu lain yang berukuran sama. Lalu, batu itu akan menghasilkan percikan api,”terang Ica.
   “Betul juga. Ayo,lakukan,”ajak Tara.Semuanya mengangguk.
Semuanya sudah siap. Kini hari sudah sangat gelap. Untunglah tidak hujan. Malam ini terlihat cerah karena adanya sinar bulan purnama yang terang. Serta api unggun yang dihasilkan Tara dan sahabat-sahabatnya sendiri.
   “Irvan,jam berapa sekarang?”tanya Dodo pada Irvan.
   “Aduh,jam setengah tujuh malam!Teman-teman,ayo shalat maghrib!”ajak Irvan pada sahabat-sahabatnya.
   “Ayo.Indri,kau membawa rukuh dan sajadah?”tanya Tara pada Indri.Indri mengangguk.Lalu,mereka shalat maghrib bergantian.Cara menentukan kiblatnya dengan kompas kiblat yang Ica bawa.
Setelah shalat maghrib...
   “Hoahhh...Aku mengantuk dan ingin tidur.Bagaimana kalau kita tidur sekarang saja?”ujar Dodo.Irvan ikut menguap.
   “Iya...,”kata Irvan.Ica dan Tara masih asyik mengobrol didekat api unggun.Indri mendekati mereka.
   “Ca,Ra,tidur,yuk.Aku mengantuk,”kata Indri.
   “Aduh...Aku juga.Yuk,tidur!”ajak Tara.Mereka mengangguk.
    Kukuruyuk...
   Terdengar suara ayam jantan membangunkan mereka semua.Mereka bangun sambil mengusap-usap mata.Mereka berharap,tidak ada kejadian apapun pada tadi malam.Mereka pun keluar dari tenda...
   “HAH?!”teriak Tara saat keluar dari tenda.Semuanya kaget bukan kepalang karena Tara teriak keras sekali.
  “Ada apa? Pagi-pagi kan,seharusnya tersenyum bahagia.Tapi,kenapa kamu teriak?”tanya Ica penasaran.
   “Lihat, kawan!”pinta Tara. Semuanya pun keluar dari tenda dengan langkah biasa.Setelah melihat keadaan,mereka pun berdiri tegap dan kaget seperti kijang melompati genangan lumpur.
   ”Astaghfirullahal’adzim!”teriak mereka.
   Ternyata,keadaan berubah! Kemarin sore yang keadaan masih baik-baik saja,sekarang menjadi hancur.Api unggun padam dengan sendirinya, kayu bakar berserakan, bahkan,ada beberapa pohon yang rindang disekitar mereka tumbang. Bahkan tenda Irvan pun juga sedikit robek!
   “Sebenarnya apa yang terjadi?”tanya Tara.Semuanya menggelang keras.Indri mulai ketakutan.
   “Aduh...Kalau begitu, lebih baik kita berkemas saja. Dan segera kembali!”perintah Tara.Semuanya mengangguk lalu mereka semua berkemas.
   “Sudah semua.kan?”tanya Dodo.
   “Sudah.Mari kita pulang.Hei,ada yang membawa kompas?”tanya Irvan.
   “Aku membawa.Sebentar...Ah,ini!”kata Tara sambil menjulurkan kompasnya kepada Irvan.
    “Tunggu.Irvan,bukankah kau membawa kompas?”tanya Ica keheranan.
    “Benar.Tetapi,kompasku rusak karea kejadian aneh itu,”jawab Irvan.
    “Ya,sudah. Mari kita lanjutkan perjalanan,”ajak Ica.Semua menuruti.
     Saat mereka berada ditengah perjalanan,ada bunyi yang sangat aneh.Suaranya seperti auman singa. Saat Tara dan Indri menoleh kesebelah kiri,mereka berdua melihat singa! Mereka berdua kaget dan memberi tahu kepada yang lainnya.
       “Teman-teman,ada singa disebelah kiri kalian! Kini aku tak bercanda!Lariii...!!!”teriak Tara disertai berlari bersama sahabat-sahabatnya itu dengan nafas terengah-engah. Ternyata,singa itu mengejar mereka!
       “Aduhhh...Kita akan berlari ke arah mana?”tanya Dodo kebingungan saat melihat dua gua dengan jalur berbeda.Sebentar lagi,singa itu sepertinya akan menggigit salah satu diantara mereka. Indri rasanya ingin berteriak kencang sekali.
       “Aku tidak akan berteriak,Tara. Tenggorokanku terasa sakit karena memakan permen pahit tadi malam,”kata Indri sambil memegangi tenggorokannya.
      “Kita berlari ke arah kanan saja.Ayo!”teriak Dodo.Mereka semua mengikuti arah yang Dodo maksud.Setelah lari cukup jauh,mereka merasa singa itu tak mengejar mereka lagi. Mereka sangat senang. Tiba-tiba,Tara melihat sungai yang mirip seperti sungai Jongglo. Tara menjerit kegirangan.
      “Kawan-kawanku,sungai Jongglo didepan mata! Berlarilah segera ke arah  sungai itu!”perintah Tara. Semua sangat senang.Lalu,berlari dan berlari kencang ke arah sungai yang dinanti itu.
      Akhirnya, mereka sampai kembali di sungai Jongglo.Mereka  berjanji akan mengingat petualanagan satu hari itu.Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.Tara pun juga.Ia menceritakan pengalamannya saat berpetualang menyusuri sebagian hutan.
     Wah,petualangan bersama sahabat memang seru dan menyenangkan sekali! Bahkan, ketakutan Indri sudah mulai menghilang karena petualangan bersama sahabat!


=SELESAI=

Banjarnegara, 25 Mei 2011

Saturday, May 5, 2012

BEKERJALAH SEOLAH ALLAH MELIHATMU

       Sesuai perencanaan yang sudah dibuat, tahun ini ada enam pengadaan barang dan jasa berupa pembangunan fisik gedung Puskesmas dan Poskesdes yang harus dilaksanakan. Tiga diantaranya bernilai di bawah seratus juta, sehingga aku sebagai PPKom (Pejabat Pembuat Komitmen) bisa menunjuk langsung rekanan yang akan mengerjakan. Berdasar masukan dari PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) dan staff teknis lainnya, akhirnya kuputuskan untuk menunjuk tiga orang rekanan yang pernah bekerjasama dengan kita dengan alasan pekerjaan yang dihasilkan lebih baik dan tepat waktu. Mereka bertiga juga merupakan rekanan yang kooperatif dan bisa diajak bekerjasama dalam arti untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bukan untuk kong kalikong yang berkonotasi negatif.
       Akhirnya dibantu PPTK, kubuat surat kepada KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) untuk mendapatkan persetujuan. Setelah berdiskusi dengan KPA, salah satunya mengenai kemungkinan bahwa kita akan mengahadapi keruwetan karena "mafia" pengadaan, akhirnya KPA menyetujui usulku. beliau mencatatnya dan akan melaporkannya pada Bupati. Aku diminta menunggu. Siang harinya aku mendapat telpon dari KPA bahwa Bupati sudah dilapori dan beliau setuju. Pagi hari selanjutnya aku pastikan lagi mengenai hal tersebut dan KPA menyatakan pekerjaan bisa dimulai.
       Akhirnya, aku minta PPTK untuk menghubungi calon rekanan agar segera menyiapkan diri bila mereka sanggup menerima pekerjaan tersebut. Dimulai dengan pemeriksaan dokumen sampai penerbitan Surat Perintah Mulai Kerja. 
       Belum juga kegiatan dimulai, yang aku khawatirkan terjadi. Dua rekanan yang ditunjuk ragu - ragu untuk menerima pekerjaan tersebut. Salah satu alasannya karena tidak enak dengan rekan pemborong lainnya, karena pekerjaan tersebut "bukan jatahnya" dan merupakan "jatah" orang lain. Yang membagi - bagi adalah sesuatu yang mereka sebut assosiasi, tapi aku lebih suka menyebutnya mafia. 
       Walaupun ini sudah menjadi rahasia umum, tak urung keningku berkerut  juga mendengarnya. Ini selalu terjadi. Seseorang yang selalu disebut - sebut sebagai calo dan tukang membagi - bagi jatah pekerjaan pada para pemborong. Tak usah kusebut namanya, semua orang sudah tahu. Memang pekerjaan siapa kok ada orang lain yang seenaknya membagi - bagi jatah ke pemborong. Membawa - bawa nama Bupati lagi. Benar - benar tidak jantan!
       Bertahun - tahun memang proyek fisik selalu jadi bancakan. Akhirnya mutu juga yang dikorbankan. Banyak pemborong yang sebenarnya tak layak mendapat pekerjaan, tapi karena alasan "menghidupi" pengusaha lokal diberi juga. Hasilnya bisa dilihat, pekerjaan yang selalu terlambat, tidak sesuai spesifikasi yang sudah ditentukan dan akhirnya selalu berakhir dengan temuan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kalau sudah begini, PPKom dan staff teknis yang harus menyelesaikan, sementara pihak lain yang menyebabkan ini terjadi selalu terjadi cuci tangan. Kalau semua pemborong itu mau diakomodasi, harusnya mereka diminta untuk memperbaiki diri, bukan meminta - minta proyek dengan cara - cara tak jujur seperti itu.
       Aku bisa mengerti ketidakenakan rekanan yang kutunjuk dan aku tak mungkin memaksa mereka menerima pekerjaan itu kalau itu akan berimbas pada kelangsungan usaha mereka. Bagaimanapun, kalau sudah menyangkut uang, maka pepatah "Homo homini lupus" harus kuakui kebenarannya. Bagaimanapun, manusia itu serigala buat manusia lainnya. Ibaratnya lokomotif, aku harus mempertimbangkan apakah kenekadanku akan berimbas pada kehancuran gerbong yang kubawa atau tidak. Bila iya, maka aku harus berkompromi tanpa harus menyerah begitu saja. 
Gb. Selalu saja ada yang salah!
       Okay, aku harus mengikuti sistem dari rezim yang sering dihujat sebagai rezim busuk ini. Aku tak akan menghujat atau mencela. Aku hanya berpikir, mengapa orang - orang itu bekerja seolah - olah Tuhan tidak mengawasi mereka? Seolah - olah mereka tidak akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya. Percayalah, ALLAH MELIHAT DAN MENGAWASI KITA SETIAP SAAT. Bahkan tak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa seijin dan sepengetahuannya. 
       Akhirnya aku hanya bisa memohon melalui do'a - do'aku "Ya Allah, berilah cahaya dalam setiap kehidupanku. Jadilah Engkau satu - satunya penolongku dan tetapkanlah hatiku pada iman ikhsanku kepadaMu, dan jadikanlah aku termasuk golongan hambaMu yang shalih. Aamiin". Aku mungkin terlalu idealis, tapi aku bersyukur masih diberi idealisme dan ini akan kupertahankan. Aku hanya bisa memetik pelajaran dan hikmah setiap peristiwa, disamping agar aku selalu berhati - hati dan teliti dalam setiap pekerjaan, juga aku belajar untuk tahu KAPAN AKU BISA TERUS DAN KAPAN HARUS BERHENTI. Kadang bahkan harus mundur selangkah untuk maju lebih cepat. Percaya bahwa Allah akan menolong selama niat kita bekerja hanya untuk beribadah kepada Allah. Alkhamdulillah aku masih diberi keyakinan dan kesadaran bahwa Allah selalu melihat apa yang kulakukan. Semoga sampai akhir hayat. Aamiin. Insya Allah.